" /> " /> " /> " />

Tag Archive: Renungan

Semua orang berhak untuk bermimpi. Hal yang menjadi bahan pertanyaan adalah bagaimana anda mengingat mimpi-mimpi itu? bagaimana cara merealisasikannya? Mimpi apa saja yang telah anda capai?

 

Anggap saja mimpi anda ada di puncak gunung, masih sanggupkah anda mendakinya?

Jika mimpi anda ada di dasar laut, masih sanggupkah anda menyelaminya?

katakanlah mimpi anda melayang-layang di udara, masih sanggupkan anda untuk terbang dan menangkapnya?

Atau mimpi anda ada di dalam sebuah gua, masih sanggupkah untuk menulusurinya?

 

Ini bukan soal medan mimpi yang terjal dan sulit dicapai kawan…. Ini soal mau atau tidak. Masih adakah tekad dalam hati kita untuk mengejarnya? Bukannya ada banyak cara untuk mengejarnya meskipun kita seringkali berpikir mimpi kita sulit dicapai?

So, beranilah bermimpi dan berani berjuang untk merealisasikannya!!!

“Sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan”

 

Kimia dan Kehidupan

Ternyata saya masih menguatkan diri untuk menulis meskipun nyamuk malam ini nakalnya minta ampun. Darah saya jadi santapan lezatnya malam ini. Namun di luar itu mungkin saya hanya ingin mencoba atau mengklarifikasi dugaan yang sering salah tentang kimia. Seringkali mendengar atau melihat langsung larangan atau iklan-iklan seperti ini, “Hindari bahan kimia” , “Benda ini bebas dari bahan kimia” dan lain-lain. :(

 

Hey..hey memang ada ya benda di alam ini yang tidak ada kaitannya dengan kimia? coba sebutkan kalau ada!

Pasti anda perlu bernapas kan, sering makan dan minum? Berpakaian? punya kendaraan dan rumah?

Ya, semua tidak terlepas dari bahan kimia. Sederhananya udara yang sering kita hirup, bukannya itu juga bahan kimia? makanan yag sering kita konsumsi, bukannya mengandung komponen kimia seperti protein , karbohidrat, dsb.Itu berarti kimia berhubungan dengan kehidupan anda bukan?

Masih berani mengatakan untuk menghindari kimia? atau bahan ini bebas dari bahan kimia?

 

Patut DIGARISBAWAHI di sini adalah yang perlu dihindari atau diperhatikan pemakaiannya yaitu bahan “kimia BERBAHAYA”.

 

Rembulan di Pagi Hari

 

Alam telah hidup,
sinar kehidupan telah hinggap di atas hamparan bumi
ooh… malam telah bersembunyi,
bangkitlah, tak ada lagi keraguan..

Nyatanya, nikmat yg tak disyukuri
kembali menjadi versi keangkuhan, ketidakpuasan, desakan
di manakah hati ini?
di manakah rasa syukur ini?
cerita ini, sadarilah…

“Semoga Anda bisa mengerti dengan maksud dari puisi ini”

Plagiarism, budaya kita kah?

Plagiarism atau bisa dibilang tindakan menjiplak karya orang lain dengan mengakuinya sebagai buatan sendiri. Saat ini kita sering dengar kasus ini, terutama di dunia pendidikan. Misalnya saja kasus plagiarism pada skripsi. Sayang banget ya ilmunya gak dipake buat nyelesain laporan akhir, malah ngaku-ngaku buatan orang lain. cari sensasi aja tuh orang ya. Padahal sayang banget kuliah 3 atau 4 tahun idealnya, karya tulis sebagai syarat kelulusannya harus ditempuh sama jalan pintas. Atau tidakan plagiarism yang sering dianggap remeh adalah menjiplak setiap kali mengerjakan laporan praktikum dari laporan kakak kelasnya. Bahaya banget tuh kalo terus menerus.

 

Plagiarism sama aja kayak orang yang gak punya ide kreatif, malas, dan gak ada keberanian buat ngungkapin pendapat sendiri yang jelas diacu dengan fakta yang ada (literatur). Bukankah plagiarism bukan budaya kita? kita bangsa yang berbudaya, aneka ragam kesenian, adat istiadat, dan sebagainya ada di negeri kita. Haruskah kita kotori budaya ini dengan plagiarism?

TENTU tidak kawan. Mari kita berlaku jujur, percaya dengan kemampuan diri sendiri, dan ciptakan inovasi untuk memajukan bangsa ini!!!.

Meniup Samudera

Aku berjalan dengan susah payahnya

Beban-beban berat seakan menyatu pada tulang-tulang kakiku

Aku berteriak…..

Meminta tolong…. Tak ada yang menghiraukan

Tak ada suguhan keikhlasan

Aku terus berusaha berjalan, memeras keringat

Memedamkan bara dalam napas

 

Aku terus berjalan,

Mengikuti tiupan angin, menuju samudera

Lelah menjanjikan, mencari hak yang masih semu

Aku berjalan, karena bisikan samudera yang meyakinkan

Lemahnya aku, tak berdayanya aku dengan campakan sikapnya

Aku hanya bisa meniup samudera, sulit berkawan mesra dengannya

 

Oh samudera…

Kebebasanmu sering menghantam tepi…

Ombak yang tak damai mencerca para pencari rejeki…

Mengusik ikan, berbaur dengan angin

Mencengkram rasa, menenggelamkan keberanian

Mengunci ucap yang menghampirimu