" /> " /> " /> " />

Tag Archive: Kimia

Jadi mahasiswa kimia? Udah ngerasa sensasinya belum?? Hhaa… pasti pada penasaran kan…
Banyak orang yg beranggapan bahwa mahasiswa kimia atau orang yang mempelajari hal yang berbau eksak cenderung pasif, kuno, gak gaul, aneh, kumuh, dan temennya buku doang… Makanya gaul dong sama anak kimia kalau mau tau kesehariannya!!! Sekilas memang sih, anak kimia identik dengan buku-buku tebel, tapi belum tau kegiatan sehari-harinya kayak gimana???
Gak sedikit kok anak kimia yang jago dalam dunia tarik suara, fashion, public speaking, organisatoris, penulis ataupun entrepreuneur. Mungkin masalah utama mentalitas kali ya,,, banyak yang berani nunjukin cuma ke sesama temennya di jurusan, tapi masih gak berani tampil lebih luas lagi cakupannya… atau bisa juga mahasiswa kimia lebih cenderung individualis, mungkin karena ngurusin laporan yg banyak kali ya tiap minggunya.
Key Point yang akan dibahas kali ini lebih ke mentalitas kebanyakan mahasiswa kimia dan individualismenya. Tidak bermaksud menghakimi, hanya mencoba membahas apa yang saya rasakan. Hal terpenting untuk bisa bersaing dan lebih berani terjun ke masyarakat adalah mentalitas. Mental yang mesti dilatih saat menjadi mahasiswa. Contoh sederhana berani bertanya dan berani mengemukakan pendapat. Selain itu bagaimana menguji potensi kita dengan mengikuti beberapa kompetisi bisa itu lomba esay, paper, lomba karya tulis ilmiah, ataupun olimpiade. Setidaknya ada keberanian untuk mengikuti hal tersebut. So, beranilah menunjukan segala kreativitas.
Dalam hal bersikap, tidak sedikit mahasiswa yang cenderung individualisme. Terkadang sangat sulit diajak bekerja sama (sebut saja kurang koperatif). Hal yang sederhana dalam mengerjakan tugas kelompok, seringkali saling mengandalkan. Akan tetapi, konsep dan ide dari kebanyakan mahasiswa udah oke, hanya saja tinggal dilatih untuk berpikir di luar kotak (out of the box). Mahasiswa juga seorang manusia dan tidak luput dari kesalahan. Solusi terbaik adalah terus memperbaiki diri. Terus berkarya dan mampu bekerja dalam tim.
hidup mahasiswa!

Pernah ikutan kegiatan Pelatihan Kimia Aplikatif (PKA) tahun lalu? Ehmm penasaran dengan tema kegiatannya tahun ini? :D

Yeah, setelah sukses dengan PKA 2011 tentang aplikasi karbon aktif dari tempurung kelapa, seperti dimanfaatkan menjadi sabun, pembuat telur asin, penjernih air, dan lain-lain. Tahun ini Ikatan Mahasiswa Kimia IPB dengan bangga mempersembahkan PKA 2012 dengan tema “Pemanfaatan Minyak Atsiri sebagai Bahan Dasar Pembuatan Pewangi dalam Skala Rumah Tangga

Don’t Miss it!!!

Sumber: Imasika IPB

Kimia dan Kehidupan

Ternyata saya masih menguatkan diri untuk menulis meskipun nyamuk malam ini nakalnya minta ampun. Darah saya jadi santapan lezatnya malam ini. Namun di luar itu mungkin saya hanya ingin mencoba atau mengklarifikasi dugaan yang sering salah tentang kimia. Seringkali mendengar atau melihat langsung larangan atau iklan-iklan seperti ini, “Hindari bahan kimia” , “Benda ini bebas dari bahan kimia” dan lain-lain. :(

 

Hey..hey memang ada ya benda di alam ini yang tidak ada kaitannya dengan kimia? coba sebutkan kalau ada!

Pasti anda perlu bernapas kan, sering makan dan minum? Berpakaian? punya kendaraan dan rumah?

Ya, semua tidak terlepas dari bahan kimia. Sederhananya udara yang sering kita hirup, bukannya itu juga bahan kimia? makanan yag sering kita konsumsi, bukannya mengandung komponen kimia seperti protein , karbohidrat, dsb.Itu berarti kimia berhubungan dengan kehidupan anda bukan?

Masih berani mengatakan untuk menghindari kimia? atau bahan ini bebas dari bahan kimia?

 

Patut DIGARISBAWAHI di sini adalah yang perlu dihindari atau diperhatikan pemakaiannya yaitu bahan “kimia BERBAHAYA”.

 

Review Jurnal

SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENG PEROKSIDA (ZnO2) DAN SENG OKSIDA (ZnO) DENGAN PERMUKAAN BERONGGA

Disusun oleh:

Arie Megha Rukhmana            (G44070053)

Ade Suherman             (G44090026)

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

 

 

SINTESIS

Mikro atau nanostruktur berongga menjadi hal yang menarik karena karakteristik yang sangat baik, yaitu densitas yang rendah, permukaan yang lebar, rasio volume, serta koefisien ekspansi termal dan indeks bias yang rendah menarik untuk aplikasi sebagai katalis, pelapis antirefleksi permukaan, isolator microwave, enkapsulisasi bahan sensitif, pelapis obat, dan baterai isi ulang. Perkembangan yang cepat dalam sintesis struktur berongga, seperti CuO, CoO3, Fe2O3, CdMoO4, TiO2, β-Ni(OH)2, α-MnO2, Cu2O, CuS, SnO2, Sb2S3, dan ZnWO4 sangat berpotensi untuk menyempurnakan sifat mekanik, optik, listrik, serta kimia untuk memenuhi berbagai kebutuhan aplikasi praktis. Senyawa ZnO dapat berguna di berbagai bidang seperti dalam industry karet, fotokatalis, sintesis ZnO2, industri kosmetik, dan farmasi, serta aplikaasi terapi. Senyawa ZnO merupakan bahan semikonduktor yang meningkat karena biokompatibilitasnya, nontoxicity, serta sifat mekanik, optik, dan elektrik yang baik. Dengan demikian, penelitian tentang ZnO2 dan permukaan berongga ZnO sangat penting dan membutuhkan banyak perhatian. Proses evaporasi termal dan metode hidrotermal yang biasa digunakan untuk sintesis permukaan mikro berongga ZnO. Namun, proses penguapan termal selalu menghadapi kerugian terkait peralatan khusus yang dibutuhkan, suhu yang tinggi (biasanya> 500 ° C), dan kondisi vakum. Sintesis hidrotermal dari permukaan berongga ZnO biasanya melibatkan proses template-assisted, seperti conventional hard templating synthesis, sacrificial templating synthesis, dan soft templating synthesis, yang menyebabkan proses sintesis menjadi rumit dan lebih lanjutnya untuk menghapus template yang sering diperlukan. Selain itu, ukuran produk biasanya pada ukuran mikrometer atau bahkan lebih besar. Oleh karena itu, sintesis permukaan berongga ZnO2/ ZnO dengan ukuran diameter submikrometer dan nanometer dengan metode yang sederhana dan efisien adalah penting dan itu masih merupakan tantangan besar bagi peneliti.

Dalam penelitian ini dikembangkan sebuah sintesis hidrotermal sederhana dengan hasil tinggi (hampir 100%) permukaan berongga ZnO2 menggunakan H2O2 dan ZnO bubuk sebagai reaktan tanpa bantuan tempelate keras terbantu dan konvensional yang membuat proses sintesis lebih efisien. Menariknya, gelembung O2 yang dihasilkan oleh dekomposisi H2O2 bertindak baik sebagai intermediet senyawa oksidator dan template lembut khusus yang sangat penting untuk pembentukan permukaan berongga ZnO2. Semua sampel yang dihasilkan dapat dengan mudah dikonversi menjadi permukaan berongga ZnO dengan perlakuan panas yang sederhana pada 180 °C selama 10 jam. Selain itu, sifat Photoluminescence (PL) dari produk tersebut diselidiki dan mekanisme pertumbuhan permukaan berongga dibahas secara rinci.

 

Cara dan teknik sintesis

Semua bahan kimia yang digunakan memiliki kemurnian tinggi sehingga tidak dilakukan pemurnian lebih lanjut. Prosedur kerja yang digunakan yaitu, sebanyak 5 mL air suling dan 400 mg bubuk ZnO dimasukkan ke dalam gelas gelas dan diaduk hingga homogen. Sebanyak 25 mL hidrogen peroksida (H­­2O2) 30% b/b ditambahkan dan campuran yang dihasilkan dipindahkan ke dalam Teflon autoklaf berlapis (45 ml), tertutup rapat, dan diperlakukan pada 150° C selama 20 jam . Autoklaf didinginkan pada suhu ruang dan presipitat yang diperoleh akhirnya dikeringkan pada 60° C di udara tanpa pencucian. Senyawa permukaan berongga ZnO diperoleh dengan perlakuan panas dari permukaan berongga ZnO­2 pada 180° C selama 10 jam di udara. Produk tersebut dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X (XRD) pada D/Max-2400 Rigaku dan X Philips Pert Diffracto Pro-meter, menggunakan Cu KR1 radiasi =1,54056 Å). Morfologi dari sampel diselidiki dengan field emission scanning electron microscopy (FESEM) pada Hitachi S-4800 dan JSM 6701F FESEM. Pengamatan Transmission electron microscopy (TEM) dan Selected area electron difraction (SAED) dilakukan pada Hitachi H-600 TEM yang dioperasikan pada 100 kV, dan HRTEM dilakukan pada F30 Tecnai resolusi tinggi TEM. Spektra Fourier transform infrared (FT-IR, Bruker IFS66 V / S) direkam untuk bagian kecil sampel yang ditambahkan KBr bubuk dan dikeringkan pada 70° C untuk menghilangkan efek molekul air. Pada suhu ruang spektrum fotoluminesen (PL) ZnO2 dideteksi pada spektrofotometer fluoresensi (FLS920 T) pada panjang gelombang 325 nm. Termogravimetri atau analisis termal diferensial (DTA di TG-6300) sebagai produk yang disintesis juga dilakukan.

 

Hasil pengamatan

Analisis Struktur.

Pola XRD dari produk disintesis (Gambar 1a) dan sampel setelah perlakuan panas (Gambar 1b) ditunjukkan pada Gambar 1. Gambar 1a menunjukan struktur kristal dan kemurnian fase struktur nano ZnO2. Seluruh puncak difraksi terlihat dengan baik sesuai dengan struktur kubik ZnO2 (JCPDS card No 13-0311). Gambar 1b menunjukkan bahwa sampel setelah perlakuan termal wurtzite ZnO (JCPDS card No 36 -1451). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa preparasi sampel ZnO2 dan setelah dilakukan perlakuan panas adalah ZnO.

Gambar 2 menunjukkan puncak eksotermik (~ 229 ° C) untuk pelepasan oksigen menurut reaksi berikut:

Suhu saat melepaskan oksigen (~ 229 ° C) adalah sesuai dengan nilai dari literatur. Berdasarkan kurvayang diperoleh, penurunan bobot sebesar 89,5%. Nilai ini jauh lebih besar daripada 16,4% yang merupakan penurunan bobot O2 saat ZnO2 sepenuhnya didekomposisi menjadi ZnO. Dalam percobaan tersebut, sejumlah bubuk padat dimasukan ke dalam cawan porselin dan hanya sedikit bubuk kuning yang tersisa setelah pengolahan termal dengan suhu tinggi. Penurunan bobot yang hampir sama pada setiap perlakuan panas yang diidentifikasi oleh pengukuran lain TG-DTA sekitar 84,5% (tidak ditampilkan). Sejauh yang kita tahu, bagian dari bubuk ZnO yang terdapat pada porselin bersama dengan dekomposisi dari ZnO2 dan pelepasan O2 karena struktur berongga masuk ke lingkup yang sangat kecil nanopartikel (beberapa nanometer) yang dapat dihilangkan oleh O2 dan N2 dengan mudah.

Gambar 3 menunjukkan spektra FTIR dari sampel ZnO2 yang dipanaskan pada 180 °C (ZnO) dan 500 ° C (ZnO) dan memungkinkan untuk dingin perlahan-lahan. Penyerapan puncak masing-masing sekitar 3431 dan 1590 cm-1dikaitkan dengan vibrasi peregangan ikatan O-H dan terjadi vibrasi pembengkokan H-O-H dari molekul air. Penyerapan tajam lainnya dari sampel yang diamati terletak pada 429 cm-1. Posisi puncak dari ZnO2 dan ZnO adalah sama tetapi ada sedikit perbedaan dari panjang pita karena valensi yang berdekatan berbeda sesuai dengan vibrasi pita Zn-O yang konsisten dengan informasi sebelumnya. Posisi puncak dipusatkan di 1040, 1334, dan 1420 cm-1 harus berhubungan dengan ion O22- dan mungkin timbul dari pita O-O karena ZnO disiapkan dengan perlakuan panas pada temperatur rendah terhadap ZnO2 dan mungkin berisi beberapa ion O22-.

Gambar 1  Pola XRD ZnO2 dan ZnO: (a) struktur nano berongga ZnO2 diperoleh melalui metode hidrotermal pada 150 ° C dan (b) struktur nano berongga ZnO diperoleh dengan kalsinasi 180 ° C selama 10 jam.

Gambar 2  TGA-kurva DSC untuk ZnO2.

Gambar 3  FTIR spektrum (a) sampel saat berkembang dan dipanaskan (b) pada 180 ºC (c) pada 500 ºC.

 

Analisis morfologi.

Gambar 4 menunjukkan gambar FE-SEM dari produk yang telah disiapkan sebagai ZnO2 dan ZnO (180 °C). Gambar 4a adalah gambaran dari preparasi sampel. Produk ini terdiri dari permukaan submikro dengan diameter 100-200 nm. Hal ini dapat ditemukan pada permukaan yang ditunjukkan oleh panah dan dapat rusak dalam proses sintesis. Gambar 4b adalah pembesaran gambar yang tinggi. Diameter dari permukaannya sekitar 100-200 nm seperti yang terlihat pada gambar 4b. Ketebalan cangkang berongga dari permukaan submikro adalah sekitar beberapa puluh nanometer dan kerangka yang terdiri dari nanopartikel kecil yang dapat dilihat lebih jelas dari gambar HR-TEM. Morfologi dari sampel yang dipanaskan pada 180 ° C tidak memiliki perubahan nyata karena suhu dekomposisinya cukup rendah, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 4, panel c dan d. Diameter dari permukaan ZnO tetap sama dengan produk yang diperoleh sebagai ZnO2. Beberapa permukaan yang jauh lebih besar dan dapat dibentuk oleh beberapa permukaan kecil yang berdekatan bergabung bersama-sama ketika sampel dipanaskan di udara, seperti ruang terbuka besar ditunjukkan oleh tanda panah pada Gambar 4c. Gambar 4d adalah perbesaran lebih tinggi citra sampel yang sama.

Selanjutnya wawasan tentang morfologi dan mikroproduk sebagai ZnO2 yang diperoleh diperoleh dengan menggunakan SDM-TEM, ditunjukkan pada Gambar 5. Salah satu permukaan (Gambar 5a) menunjukkan produk tersebut adalah struktur berongga yang terdiri dari nanopartikel seragam yang mungkin diameter beberapa nanometer, dan  Gambar 5b jelas mengungkapkan struktur dan diameter permukaannya sekitar 200 nm dan ketebalannya sekitar 60 nm yang didukung  dengan gambar FE-SEM. Rincian struktur berongga yang digambarkan dengan jarak yang lebih dekat (Gambar 5c). Struktur atomik ZnO2 juga ditandai oleh HR-TEM, yang ditunjukan pada Gambar 5d. Hal ini menunjukkan bahwa permukaan submikro ZnO2 berukuran multicrystalline, dengan salah satu jarak kisi sekitar 0,281 nm.

 

Gambar 4 (a) perbesaran rendah dan (b) tinggi gambar FE-SEM dari produk  permukaan mikro berongga yang diperoleh ZnO2, (c) rendah, dan (d) perbesaran tinggi gambar FE-SEM dari produk pemijaran ZnO, pemijaran pada 180 ° C.

Gambar 5  Penampakan HR-TEM dari produk ZnO2 yang diperoleh (a) rendah, dan (b,c) perbesaran tinggi dari salah satu gambar permukaan  (d) struktur atom , membenarkan sebuah struktur kubik dengan pinggiran kisi dari 2.81 Å (111) permukaan datar. Lampiran papan merupakan pola SEAD.

Mekanisme pertumbuhan.

Gambar 6 adalah ilustrasi skematik dari proses pertumbuhan permukaan berongga. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dihasilkan gelembung gas O2  proses in situ yang berfungsi sebagai template lembut selama proses pembentukan permukaan berongga. Berdasarkan pengamatan ini, mekanisme untuk pembentukan permukaan submikro berongga ZnO2 diusulkan dengan referensi untuk preparasi ZnSe, atau permukaan mikro ZnO. Pada percobaan ini, prekursor ZnO bubuk terdispersi menjadi partikel-partikel kecil oleh iradiasi ultrasonik. Zat tersebut dapat dengan mudah dilarutkan dalam larutan dan bentuk monomer ZnO dalam lingkungan hidrotermal pada suhu yang relatif tinggi dan tekanan tinggi. Seperti diilustrasikan pada Gambar 6. Setelah nukleasi awal, monomer yang tumbuh menjadi nanopartikel. Nanopartikel ini memiliki kecenderungan menjadi agregat dan banyak terdapat gelembung nano O2 yang terurai oleh hidrogen peroksida yang telah disediakan oleh pusat agregasi (langkah a). Didorong oleh minimalisasi energi antarmuka, nanopartikel ZnO membentuk agregat sekitar antarmuka gas-cair antara O2 dan air akhirnya muncul kembali untuk permukaan berongga ZnO (langkah b dan c). Pada saat yang sama, ZnO dioksidasi menjadi ZnO2 oleh gas O2 sehingga permukaan berongga ZnO2terbentuk. Tampaknya proses pembentukan berongga ZnO adalah lapisan demi lapisan (langkah b) yang diidentifikasi oleh percobaan pararel berikut. Ruang antara lapisan adalah dipenuhi O2 yang dibutuhkan pada prosedur oksidasi dan lapisan-lapisan tersebut akhirnya terhubung bersama-sama (langkah c). Di tempat gelembung gas yang dihasilkan membantu nanopartikel untuk membentuk agregat dan permukaan berongga. Namun lampiran partikel padat untuk gelembung gas adalah proses yang kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti sifat permukaan partikel, ukuran partikel, interaksi elektrostatik, dan kondisi hidrodinamik.

Langkah yang paling penting (langkah b) untuk pembentukan permukaan berongga, keberadaan O2 dan keseimbangan gas-cair dalam autoklaf adalah faktor kunci yang membuat pembentukan gelembung gas pada template lembut dan produk berongga. Singkatnya, morfologi tergantung pada konsentrasi hidrogen peroksida dan jumlah prekursor ZnO yang mempengaruhi konsentrasi relatif dari gelembung-gelembung gas dan temperatur panas berkaitan dengan kecepatan dekomposisi hidrogen peroksida serta waktu reaktif juga mempengaruhi semua yang diidentifikasi oleh eksperimen pararel. Pada percobaan, ketika kita mengurangi jumlah hidrogen peroksida sampai 15 ml, jumlah permukaan berongga menurun dan struktur seperti batang muncul. Gambar 7 adalah gambar produk SEM, (a) perbesaran rendah dan (b) perbesaran tinggi. Oleh karena itu, kita dapat berpikir bahwa jumlah hidrogen peroksida yang tepat adalah yang mendukung dalam pembentukan permukaan berongga. Selain itu, variasi jumlah prekursor ZnO juga dilakukan untuk menyelidiki efeknya.

Gambar 6  Sebuah gambar skematik dari kemungkinan mekanisme pembentukkan permukaan nano berongga : (a) pembentukkan gelembung gas O2 dan pembubaran dari prekursor, (b,c) pembentukkan mikro berongga permukaan ZnO

 

Gambar 7 Gambar SEM dari produk yang bereaksi dengan 15 ml H2O2: gambar (a) kecil dan (b) perbesaran tinggi.

 

Gambar 8 Gambar TEM dari hasil kontrol eksperimen: (a) citra produk yang diperoleh sebagai, ZnO2 waktu reaksi 44 jam terlalu lama, dan (b-d) permukaan mikro berongga ZnO2 dipanaskan masing-masing pada 120, 150, dan 180 ° C

Pada kondisi dengan jumlah ZnO berbeda, diperoleh hasil yang berbeda. Jadi jumlah yang sesuai dari prekursor ZnO juga merupakan faktor penting yang membentuk suatu massa dari permukaan berongga ZnO2. Perubahan morfologi berasal dari peningkatan konsentrasi ZnO adalah sama halnya dengan yang dihasilkan dari pengurangan jumlah hidrogen peroksida. Proses dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi permukaan produk dilakukan dengan serangkaian percobaan kontrol. Gambar 8 menunjukkan gambar TEM dari produk dengan berbagai morfologi. Ketika waktu untuk pemanasan selama 44 jam, nanopartikel seragam terbentuk yang ditunjukkan dalam gambar 8a dan diameternya sekitar beberapa nanometer adalah urutan yang sama besarnya sebagai nanopartikel yang menyusun permukaan berongga.

Gambar 9 Fotoluminesense spektrum diperoleh sebagai produk masing-masing  dengan (1) 300 dan (2) 400 mg ZnO sebagai pendahulu,.

Ketika waktu pemanasan lebih lama dari 48 jam, serpihan super tipis terbentuk (tidak ditampilkan), yang dianggap hasil dari nanopartikel disebutkan di atas. Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa nanopartikel tersebut berongga, yang dalam berkenaan dengan hasil SDM-TEM dan TG-DTA yang disebutkan di atas. Penyelidikan efek dari suhu reaktif dilakukan eksperimen dengan suhu-kontrol pada masing-masing 90, 120, 150, dan 180 °C. Bila suhu adalah 90 dan 180 °C, morfologi dominan dari produk adalah batangan berukuran nano dan terdapat beberapa anomali permukaan, seperti yang ditunjukkan pada gambar 8d. Gambar TEM dari produk yang dipanaskan pada 180 °C yang mengindikasikan bahwa kulit dari permukaan terdiri atas struktur serpihan yang berbeda dari produk yang diperoleh pada 150 °C. Gambar 8b adalah gambar produk yang dipanaskan pada 120 °C. Kulit yang berlapis-lapis yang dapat dianggap sebagai salah satu proses pembentukan terakhir produk permukaan berongga (dipanaskan pada 150 ° C), yang ditunjukkan pada gambar 8c. Seperti kita lihat, suhu sangat dapat mempengaruhi pertumbuhan nanokristals, kinetika nukleasi, dan pertumbuhan serta proses seperti pengkasaran dan agregasi diharapkan akan sangat tergantung pada sifat reaksi.

Spektra PL.

Gambar 9 menunjukkan spektra PL yang diperoleh sebagai sampel ZnO2 dengan reaktan ZnO, 300 mg (nama contoh “a”) dan 400 mg (bernama sampel “b”), dengan panjang gelombang eksitasi 325 nm. Sisipan Gambar 9 (1) adalah fitur dari kedua sampel. Spektra sampel PL “a” terbagi ke dalam empat komponen, yang berpusat di 392, 448, 545, dan 618 nm, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9 (2); masing-masing kurva berwarna mengindikasikan puncak. Namun, sampel “b”, terbentuk pada kondisi yang sama kecuali untuk kuantitas reaktan ZnO, emisi lebar yang lemah pada panjang gelombang 400-475 nm yang hampir datar dalam kisaran ini, dan puncak lemah di sekitar 610 nm, seperti yang ditunjukkan pada gambar 9 (1b). Seperti kita ketahui, ZnO2 adalah semikonduktor pita yang tidak langsung. Nilai kesenjangan adalah antara 3,71 eV untuk ZnO2 film dan 5,7 eV untuk film ZnO2 yang juga dihitung dengan simulasi pertama kali dan berada di kisaran 3.3 – 4,6 eV untuk nanopartikel ZnO2. Transisi intrinsik probabilitas untuk semikonduktor sangat kecil dan transisi yang bukan intrinsik memainkan peran utama sebagai gantinya yang berhubungan dengan vibrasi kisi

 

Alasan dilakukan metode

Sintesis ini dilakukan karena tekniknya ramah lingkungan dan sederhana.  Ukuran permukaan hasil sintesis dalam suhu rendah maupun tinggi menghasilkan hasil yang sama. Metode sintesis ini dilakukan karena dapat menghasilkan produk yang optimum pada kisaran suhu 229 ºC dengan TG-DTA. Gelembung gas yang digunakan pun menghasilkan pusat agregasi yang efektif untuk membuat submikro atau nano berongga. Metode soft-template merupakan metode yang baik untuk mensintesis karena mampu meminimalisasi adanya pengotor-pengotor, sederhana, nyaman, dan dapat dikembangkan untuk solusi mensintesis permukaan berongga oksida logam lainnya.

 

 

 

Kelemahan metode sebelumnya

Proses evaporasi termal selalu menghadapi kerugian terkait dengan peralatan khusus yang dibutuhkan, suhu yang tinggi (biasanya> 500 ° C), dan kondisi vakum. Sintesis hidrotermal dari permukaan berongga ZnO biasanya melibatkan proses template-assisted, seperti conventional hard templating synthesis, sacrificial templating synthesis, dan soft templating synthesis, yang menyebabkan proses sintesis menjadi rumit dan lebih lanjutnya untuk menghapus template yang sering diperlukan. Selain itu, ukuran produk biasanya pada ukuran mikrometer atau bahkan lebih besar. Oleh karena itu, sintesis permukaan berongga ZnO2/ ZnO dengan ukuran diameter submikrometer dan nanometer dengan metode yang sederhana dan efisien adalah penting dan itu masih merupakan tantangan besar bagi peneliti.

 

File bentuk  Word bisa diunduh di sini

atau jurnalnya dalam bentuk pdf di sini