" /> " /> " /> " />

Tag Archive: Cerpen

Cerita Sebelumnya Cerminku yang Retak #1     Cerminku yang Retak #2

********

Aneh…aneh.. tidak masuk akal.. ulah siapa ini?

Suara rintihan itu masih belum tereksekusi di angkasa. Suara itu terdengar semakin nyaring. Aku semakin dalam menelusuri ruangan ini. Mataku terus bermain pandang menyoroti gerak-gerak aneh. Semakin lam kuberjalan, ku melihat adanya penampakan di salah satu penjuru kamar. Sosok itu membuatku sedikit sesak dan aku merasa tak kuasa menerima rekaman gambar itu. Fikiranku seakan berada di alam mimpi. Sekujur tubuhku perlahan melemas, tulang-tulangku seakan-akan remuk.  Aku terjatuh ke lantai hingga lututku membentur lantai walaupun aku kuasa menahan rasa sakit itu. Aku terus menatap sosok itu yang terus merintih. Hatiku terus disayat-sayat pisau iba. Air mataku semakin mengalir deras tak tertahankan meluluri pipi. Aku sadar bahwa aku tidak sedang di dunia mimpi, tapi aku sungguh tak percaya dengan sosok itu. Dia mirip denganku. Kutatap wajahnya dengan teliti, tiada seulas perbedaan. Haya saja raut wajahnya terlihat pucat dan ketakutan. Dia terus memberontak dan berusaha melepas rantai besi yang mengikat kedua kakinya. Dia terlihat penuh duka. Dia begitu dikelilingi kabut tebal kesedihan. Hidupnya tampak begitu terkekang layaknya hewan peliharaan. Hatiku terus bertanya, siapa yang tega memerlakukan dia seperti itu. Siapa yang memiliki hati kejam dan biadab.

Aku semakin dekat dengannya, dia terlihat begitu ketakutan. Rintihannya sirna seketika. Pori-pori wajahnya mengeluarkan butir-butir keringat. Dia melihatku layaknya melihat serigala yang akan menyantapnya. Jarakku dengannya hanya sekian jengkal. Tanganku mulai kukeluarkan untuk menyentuh wajahnya. Terasa halus. Kukira dia selalu dirawat, namun kenapa diperlakukan seperti itu, sungguh perbuatan di luar manusiawi. Tiba-tiba kupeluk dia, terasa begitu tenang. Diapun terlihat tenang, ketakutannya padaku hilang. Dia seperti berharap kepadaku untuk melepaskan jeratan pada kakinya. Aku begitu nyaman memeluknya. Terasa cairan kesedihan menguap saat memeluknya. Hawa kesepian selama ini serasa hanyut begitu saja. Dia membuat sedihku ditumbuhi dengan senyuman kebahagiaan.

Tiba-tiba tanda Tanya besar kembali mengunjungiku, aku secepat mungkin melepas pelukan itu.

Dia siapa? Kalau benar adik kembarku, kenapa bernasib seperti ini. Siapa yang melakukan ini? Tapi, apa jangan-jangan dia hanya setan yang menjelmakan diri.

Aku terus saja menguras air mataku, sulit kukendalikan. Tiba-tiba kudengar seorang memanggil namaku dengan lantang. Setelah berbalik pandang, ternyata dia papaku. Wajahnya memerah dan matanya begitu tajam menyorotiku dangan penuh kemarahan. Dia langsung menghampiriku. Tanpa banyak kata dia menamparku berulang kali, memukulku tanpa ampun. Kurasa amaranya terkuasai iblis. Aku haya bisa menjerit kesakitan, walau aku berusaha menahan sakit. Kurasa papaku puas menyakiti diriku, kini aku lemah. Napasku sesak, sekujur tubuhku terasa begitu sakit dan membengkak. Kutatap wajah papaku sejenak, terlihat api amarahnya mulai padam. Dia membantuku bangkit.

“Ma..maafkan papa Man, papa hilaf. Dan Kenapa kamu melanggar pesan mama?” papaku memegang kedua bahuku

Seketika aku melepaskan pegangannya. Aku menatapnya sinis. Kurasa sekujur tubuhku dialiri darah yang mendidih. Amarahku bergejolak dan tangisku bisa kuhentikan.

“Melanggar pesan mama? Atau hanya rekayasa akal licik dan kebiadaban Papa?”

“Kau….!!!!”

“Jawab dengan jujur Pa, siapa dia? Dia adik kembarku kan? Kenapa papa tega membohongiku, kenapa?” ucapku lantang. Aku memegang kerah bajunya dengan erat, dia tak bisa berkata-kata.

Tiba-tiba tubuhku lemas. Tanganku terlepas dari kerah bajunya. Kini hatiku terasa terus diterjang duri kesedihan dan rasa bersalah.

“ Man, maafkan Papa. Papa tega melakukan ini karena ulah dia sendiri. Sewaktu dia kecil, dia tega membunuh mamamu. Papa menemukan dia di dapur sambil memegang pisau berlumuran darah. Sedangkan mama, mama sudah tak bernyawa dan tergeletak di dapur. Papa sangat mencintai mama, apa salah papa menghukum adikmu seperti ini?” papaku tiba-tiba menangis tersedu sedan.

“Sudah Pa, tidak usah membuat skenario lagi. Papa puas kan sekarang? Menyia-nyiakan seorang anak dan itu adikku sendiri. Kenapa tidak bunuh dia saja dari semenjak ia kecil, daripada menyiksanya seperti ini. Karena ulah kebejatan dan kebiadaban Papa, dia menjadi penakut dan tak bisa bicara”

Suasana hening seketika. Adikku kembali ketakutan, akupun mendekapnya kembali. Tiba-tiba datang sosok wanita membuka rantai yang mengekang adikku.

“Kenapa Mbok, kenapa tega melakukan hal ini? Kenapa bersekongkol dengan Papa?”

“Maaf Den, mbok terpaksa. Mbok tidak mau menyakiti hati Papa aden, karena Beliau yang memperkejakan mbok dari aden masih kecil. Mbok banyak berhutang budi sama beliau.”

“Kuputuskan, aku akan keluar dari neraka ini dan membawa adikku. Ingat Pa, Papa telah berbuat dzalim karena menyia-nyiakan seorang anak.”

Tanpa asa aku menggendong adikku dan kubawa ke luar rumah. Aku tak peduli dengan suara-suara larangan yang tertuju padaku. Aku pergi dengan mobilku yang sering kukendarai. Tujuanku ke rumah nenek di Bandung. Semakin hari, api amarahklu pada papa semakin redup. Aku berharap dirinya bia kembali pada orbit yang benar dan sadar akan perbuatan keji yang dilakukan. Di kota kembang ini, aku merawat adikku dan mengajari dia berbagai hal. Meskipun dia menjadi lumpuh selamanya, aku selalu bersemangat merawatnya. Kini aku tidak merasa kesepian lagi, walaupun cerminku telah retak karena badai penyiksaan yang menimpa dirinya.

Cerita Sebelumnya Cerminku yang Retak #1

 

Ternyata asumsiku salah. Telingaku menangkap suara gerak-gerik kehidupan. Suara derap langkah yang memecah kesunyian. Hawa mendebarkanpun menyesak di dada. Aku memasuki ruangan lebih dalam lagi, hingga akhirnya aku menemukan jawaban dari tanda Tanya itu. Wujud yang taka sing dipandang mata.

“Mbok dari mana?”

“Anu Den, anu… mbok teh baru dari atas”. Kulihat raut wajahnya tampak kusut dan terlihat mnyembunyikan sesuatu.

“Sudah apa? Kok membawa piring bekas makanan segala?”

“Mbok…eh, tadi sudah makan di atas. Iya Den!”

Aku menangkap keanehan dalam diri pembantu berumur itu. Guratan keningya tampak semakin banyak karena kecemasan menguasai dirinya. Kuingat sudah tiga kali aku menemukannya membawa perlengkapan makan dari lantai dua. Alasannya tak berbeda jauh dari sebelumnya padahal tempat untuk makan telah tersedia di ruang makan dan tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk menaiki tangga terlebih dahulu. Namun aku tidak ingin terlarut dalam masa kecurigaan, mungkin saja dia bosan makan di bawah sana. Aku mencoba untuk selalu berfikir positif supaya dalam menangani segala sesuatu tidak dengan kecurigaan berlebih.

“Mbok ambilkan minum ya Den?”

“Iya Mbok terima kasih, kalau begitu saya ke kamar dulu”

Akupun mulai menaiki beberapa anak tangga dengan keadaan lelah. Kurasa lelehan keringat terus membasahi wajahku. Setelah kubuka mulut kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di pangkuan kasur. Hipnotis yang menyerang kesadaranku serasa semakin kuat. Kelopak mataku semakin berat dan terkunci rapat dan fikiranku terus melayang-layang.

Kurasakan adanya sentuhan yang mengganggu imajinasiku. Awalnya aku tidak memerdulikannya, namun tiba-tiba terdengar suara lembut memanggilku berulang-ulang. Aku coba membuka kelopak mata, tampak sosok wanita yang taka sing di pandang mata.

Mungkinkah ia ibundaku, benakku

Namun ternyata dugaanku salah, dia pembantu setiaku.

“Maaf Den mbok mengganggu tidur Aden, tapi sekarang sudah jam empat,” ucapnya pelan

“Astaghfirullahaladzim!” mulutku spontan

Aku bangkit dari kasur dan menapakan kakiku, kuminum segelas air yang ada di atas meja belajarku. Aku berjalan perlahan walau langkahku tak normal menuju kamar mandi. Setelah kubasuh sebagian anggota tubuh, aku sembahyang ashar kira-kira sepuluh menit. Semangatku terasa dating kembali, sejuk. Usai shalat, perutku mulai menagih haknya. Aku langsung berinisiatif turun ke lantai satu. Kulihat papa muncul dari balik pintu utama, kulihat aura aneh di wajahnya. Dia terlihat cemas dan kelelahan. Aku menghampirinya.

“Papa tidak biasanya pulang kerja sore begini?” akuu duduk di sampingnya.

“Berkas penting Papa ada yang tertinggal di kamar Man.” Ucapnya disertai pemulihan napasnya. Dia terlihat begitu kelelahan.

“ya sudah, Adman ambilkan ya Pa? disimpan dimana Pa?” Aku langsung bangkit.

“Berkasnya ada di laci meja kerja Papa”

Aku menaiki tangga dengan berlari dan langsung masuk ke kamar papa. Suasana haru sekejap menyerang hatiku. Tanpa kusadari butiran air mataku meleleh di kedua pipiku. Kulihat lukisan mama terpasang di dinding, tampak wajahnya begitu ayu dan mempesona. Pasti papa amat bangga bisa memiliki istri seperti mama. Aku menyentuh wajahnya untuk kusalurkan benih-benih kerinduan.

Tiba-tiba suara misterius itu mengagetkanku. Jantungku kini berdebar tak terkendali. Suara itu merintih, terdengar nada-nada mengharukan. Semakin lama suara itu terdengar semakin keras, terasa begitu dekat. Aku semakin yakin, suara itu benar-benar nyata, bukan sekedar perasaanku saja. Suara itu seperti bersumber dari mulut ibuku hingga tanpa kusadari aku dekapkan telingaku ke mulutnya. Suara itu masih tertahan dengan rintihannya. Kini aku tersesat dengan tanda tanya besar,  antara kekhawatiran dan penasaran. Aku mengangkat lukisan mamaku karena aku sungguk tak percaya lukisan itu bisa bersuara.

Dengan terus berdetak kencangnya jantungku dan gemetar kedua tangan, aku memegang lukisan itu walau terasa cukup berat. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya, dinding di balik tempat singgah lukisan ini adalah sebuah lubang lebih kecik ukurannya dibandingkan lukisan ini. Secercah cahaya terpancar dari lubang itu. Diriku terus dilanda badai keanehan, hingga jantungku tak berhenti mengamuk. Di sisi lain aku sadar bahwa lubang itu menuju kamar mama. Hatiku ingin sekali memasuki lubang itu, tetapi aku tak ingin melanggar pesan mama seperti yang diucapkan oleh papa. Sungguh berat momentum saat ini, aku dihadapkan pada dua dilemma yang sulit kutentukan. Nafsuku terus merayuku untuk masuk ke dalam lubang itu. Akhirnya aku terpaksa melanggar pesan mama karena kuingin mencari jawaban dari pertanyaanku yang menggentayangiku selama ini. Aku mulai masuk perlahan, ternyata isi ruangan mamaku tak seperti yang kukira. Lantainya putih bersih, tiada noda sedikitpun. Tak ada satupun sarang laba-laba. Tiada bau aneh yang menari-nari di atmosfir kamar ini. Kejadian ini membuatku semakin dan semakin aneh dengan kejadian yang tak masuk logika ini.

 

*** Bersambung ke Bagian 3

Hatiku merasa, fikiranku telah berada kembali di dunia alam sadar. Nafsuku bisa mencium bau dunia dan gendang telingaku bisa menangkap getaran sekitar. Terdengar kekhasan suara duniawi. Namun, tirai mataku masih sulit terbuka, kainnya terjerat dalam jendela kemalasan. Terasa berat untuk kutunjukan cerminan hati. Godaan nafsu yang masih menggebu-gebu membuatku lemah sehingga diriku terus merasa nyaman berbaring. Tubuhku serasa melekat erat di atas pangkuan kasur empuk yang memberiku nuansa kehangatan dan gairahnya memancarkan sinyal hipnotis hingga kuterpedaya untuk selalu mendekapnya. Tiba-tiba secercah cahaya menerangiku. Aku mulai menyadari bahwa hati dan fikiranku menegur dan mengingatkan akan suatu kewajiban. Dengan usaha penuh, kubuka tirai mataku perlahan, serentak sorotan cahaya menusuk mataku sehingga sekelilingku tampak remang-remang. Namun, seiring dengan bertambahnya usia waktu, bayangan samar itu mulai sirna perlahan. Seisi kamarku kini tampak jelas dalam indera penglihatanku. Hawa kehidupan terasa melegakan dada. Sentuhannya membuat sejuk kembali. Tubuhku kini bisa terlepas dari jeratan kasur. Aku mulai mengangkat kedua tanganku ke angkasa. Aroma asam yang menguap dari ketiakku membelai-belai bulu hidungku, hingga kurasakan bau tak sedap dari wujudnya. Perenggangan tanganku laksana hadiah terakhir dari tidurku, tercipta kenikmatan luar biasa hingga spontan suara desahku mengalun di atmosfir kamar.

Kuubah posisi tubuhku. Aku duduk sejenak di hamparan busa untuk menginstal kembali memoriku. Setelah kuyakin nyawaku telah terkumpul, aku mengubah poseku dan mulai mencoba bangkit. Aku melihat sejenak handphoneku. Tampak guratan hitam menunjukan pukul lima pagi. Hatiku tersentak oleh kewajiban yang terbengkalai. Aku langsung menapakkan kakiku di atas keramik putih yang berbaris rapi. Walaupun isi kepalaku masih dilanda putaran yang membuat pening, aku tetap tegar meniti terjangnya godaan nafsu. Hasil usahaku, aku sampai di kamar mandi.

Kuputar keran yang menancap di sistem kehidupan. Terpancar begitu cepat pelarut yang tak asing lagi dipandang mata. Sesuatu yang teramat penting bagi kelangsungan umat manusia. Suatu keberkahan dari Tuhan yang tak terhitung kuantitas dan harganya. Zat itu memiliki kekentalan rendah hingga tidak lengket di tanganku.

Criiiiikkkkkk……crikkkkkkk

Terdengar percikannya amat merdu. Aku memasukan jemari tanganku pada alirannya pertanda langkah pertamaku dalam mensucikan diri dari hadas kecil, aktifitas wajib sebelum berkomunikasi dengan sang Maha Pencipta. Cairan yang menerobos pori-pori sebagian tubuhku menciptakan hawa kesejukan, menjadikan raga dikelilingi kabut yang memberiku semangat. Tak lama berlalu, aku menghamparkan sajadah suci, tempatku memuja Ilahi dan berserah diri kepada-Nya.

Usai mengagungkan kebesaran-Nya dan melantunkan ayat-ayat cinta-Nya, aku membuka jendela kamar lebar-lebar. Sekejap, gumpalan angin menyerang wajahku hingga mereka terpencar dan sebagian terhirup oleh napasku. Mereka menyeruap, terasa segar dalam paru-paru. Di lantai dua istana ini, potret mataku merekam panorama alam sekitar di nuansa pagi yang menggoda. Alam nan hijau, pepohonan yang berdiri di lantai bumi yang diantara mereka saling berhadapan dan dipisahkan jalan lebar penuh kerikil-kerikil hitam. Kerikil-kerikil yang bersatu begitu erat tempat melintasnya segala jenis roda dengan asyiknya. Bumiku tempat berpijak yang telah membesarkanku hingga kucapai kedewasaan. Tempat yang  menyediakanku perindungan dan sarana sumber ilmu pengetahuan. Duniaku, kota pengukir bermacam sejarah dan kenangan yang membuatnya bertahan sampai saat ini. Kota penghujan yang termasur hingga ke seluruh penjuru negeri, Bogorku kota tegar beriman.

Kokokan ayam terdengar berulang kali menyambut kedatangan raja siang. Sekawanan burung menari riang di angkasa sambil memerdengarkan kicauan merdunya. Semakin lama membuat wajah langit terlepas dari raut kesedihan. Bersamaan dengan waktu yang terus bertambah usia, segala  macam kendaran berlomba menggerumuti jalanan.

Aku memutuskan untuk kembali ke kamar mandi untuk membasahi sekujur tubuh hingga lekukan-lekukannya supaya semua pori-pori kulit bisa bernapas lega. Selang beberapa menit, aku telah mengenakan seragam sekolah, putih dan abu. Kusadar bahwa hampir dua tahun lebih telah memakai seragam penuh makna itu. Jam dinding menunjukan pukul enam kurang seperempat, aku menggendong tasku untuk menuju ruang makan yang terpusat di lantai pertama. Saat aku menapakan kaki yang terbungkus sepatu ke anak tangga pertama, gendang dalam telingaku diketuk oleh suara yang membuatku dilanda pertanyaan misterius selama ini. Suara yang datang tiba-tiba tanpa dinantikan kedatangannya. Suara rintihan yang tak asing lagi bagiku. Namun setelah kutelusuri berulang kali hanya sia-sia, aku tak menemukan jawaban. Bulu kudukku sempat dibuatnya keram. Suara itu ada dan hilang tiba-tiba.

Mungkin itu hanya perasaanku saja, fikirku

Dengan secepat mungkin aku menuruni anak tangga tanpa memerdulikan berapa jumlahnya. Namun nada-nada akibat langkahku sedikit menelan ketegangan di hatiku. Aku mulai memasuki pabrik istana, tempatku mengisi perut dengan produk dari alam untuk kudapatkan energinya dalam menjalani hidup. Kulihat papaku telah duduk rapi dengan pakaian jas yang menghiasi tubuhnya, menampakan kegagahan dirinya walau usianya sudah mencapai kepala empat. Aku berinisiatif duduk di hadapannya yang dibatasi oleh meja kayu yang di atasnya terhampar makanan-makanan lezat yang menggugaah selera. Aroma yang dikeluarkannya membuat air liurku mendidih, ingin sekali kuletakan makanan itu di lidahku dan mulai kurobek-robek dengan taringku. Namun hal itu belum terwujudkan, makanan itu sama sekali belum tersentuh olehku ataupun papaku. Tiba-tiba papaku mengajakku memulai sarapan pagi ini, mungkin dari tadi papaku menungguku. Tanpa asa kumulai memegang sendok dan garpu. Kumulai menyekup butiran nasi goreng yang corak dan warnanya menambah nafsu makanku. Kuangkat sendok itu ke udara, terlihat kepulan asap membawa aroma lezat. Air liurku seakan membeludak, tak tahan ingin segera membasahi makanan itu. Akhirnya kumasukan ke dalam rongga mulut, kukunyah perlahan dan kukirimkan keterowongan hitam.

“Oh iya Pa, tadi Adman mendengar suara misterius lagi!” Tak kusangka ucapanku membuat papaku tersedak. Secepat mungkin dia minum segelas air.

“Maaf Pa, Adman jadi…”

“Tidak apa-apa kok Man, mungkin papa terlalu cepat makannya. Tentang masalah itu kan papa sudah katakan berulang kali bahwa suara itu hanya perasaanmu saja,” ucap papa meyakinkan

“Tapi Pa, Adman sering mendengar suara itu berasal dari kamar kesayangan Mama. Suara misterius itu terdengar berulang kali, bahkan dari semenjak Adman kecil. Apa sebaiknya kita periksa saja ke dalam kamar Mama?”

“Jangan! Ingat Man, mamamu telah berpesan pada papa supaya jangan ada seorangpun tak terkecuali kita yang memasuki kamarnya. Apalagi membersihkan atau merenovasi kamarnya”

Ucapan papaku yang terakhir membuat hatiku tersentak. Niatku langsung lenyap untuk memasuki kamar itu. Aku tak ingin melanggar pesan mama, seorang yang telah melahirkanku dengan susah payah meskipun aku tidak akan pernah lagi melihat wajahnya di dunia ini. Dia telah dahulu pergi, karena kutahu jelas dalam kitab suciku bahwa semua orang akan mengalami kematian. Hanya saja menunggu kapan dan dalam kondisi yang bagaimana. Tuhan yang Maha Kekal yang takkan mengalami kematian telah mentakdirkan ini semua meskipun hatiku selalu dilanda kesedihan bila bayangan mamaku terfikir dalam benakku. Namun, kuselalu berusaha tetap tegar dalam menerima ketetapan dari yang Maha Esa, Tuhan semesta alam yang tak sebanding dengan makhluk-Nya. Kuhanya berharap mamaku bisa tenang di alam sana dan surga nantinya akan menjadi alam abadinya. Di dunia ini aku hanya bisa melihat mama lewat lukisan besar yang tergantung di dinding kamar papa. Usai sarapan pagi, kami berangkat dengan mengendarai mobil sendiri-sendiri. Penghuni Istanaku hanya pembantuku seorang dan di gerbangnya seorang pria berseraganm laksana pilot menjaga istana siang malam.

Andaikan mama dan adikku masih hidup pasti tidak akan begini, batinku

Waktupun terus berlalu tanpa ada hambatan sedikitpun. Sorot mata langit begitu tajam membelah kegelapan hingga aura panas menjadi tertinggal. Cahaya matanya menusuk kulitku hingga cairannya menetes dan membasahi tubuh. Aku memasuki mobilku kembali dengan lemas setelah otakku digentayangi rumus-rumus kimia saat di kelas beberapa menit yang lalu.

Aku bisa tidur siang saat sampai di rumah, fikirku

Dengan terus melajunya ban mobilku, menggiling hamparan kerikil-kerikil hitam yang tampak bagai rantai dari besi. Istanaku telah tampak pada kamera inderaku. Kurasa istanaku dengan dua tingkat terus dikelilingi hawa yang memacu detak jantungku, kencang dan mataku serasa ingin selalu menatapnya. Tanpa kusadari mataku meneteskan air mata hingga lelehannya membasahi pipi. Kuterserang ingatan yang mengekang hati dan fikiran yang membuat gejolak kerinduan memuncak. Aku mengusap air mataku, lalu kumulai memasuki istanaku, kurasa angin menyambut kedatanganku dari dalam. Terasa suasana begitu sepi, tiada tanda-tanda kehidupan bahkan sekecil atompun.

***** dilanjutkan ke bagian 2