" /> " /> " /> " />

Tag Archive: Akademik

Nisfiyah Maftuhah (G44090003), Ade Suherman (G44090026), Dewi Khartikasari (G44090080)
Institut Pertanian Bogor, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Departemen Kimia
Gedung Fakultas Peternakan W2 Lt4-5, Jl. Agatis Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680 Telp./Fax (0251) 8624567. Website: www.chem.fmipa.ipb.ac.id– email: kimia@ipb.ac.id
Abstrak

Analisis campuran natrium benzoat dan kalium sorbat dapat dilakukan dengan metode kalibrasi multivariat. Model yang digunakan adalah partial least square (PLS), principle component analysis (PCA), dan principle component regression (PCR). Analisis menggunakan PLS menghasilkan selisih antara konsentrasi natrium benzoat awal dan konsentrasi natrium benzoate sesudah pengolahan lebih besar dibandingkan selisih konsentrasi kalium sorbat yang diakibatkan nilai residual eror untuk natrium lebih besar dibandingkan kalium sorbat, yaitu masing-masing 1.34 dan 0.11. hal tersebut sesuai juga dengan hasil analisis dengan model PCR bahwa nilai PRESS natrium benzoat lebih besar dibandingkan kalium sorbat dengan nilai masing-masing 39.5893 dan 0.8125.  Hasil yang terbaik ditunjukkan pada model PLS karena menghasilkan nilai PRESS yang sangat kecil.

Kata kunci: Kalibrasi multivariat, PLS, PCA, PCR
Abstract
Analysis the mixtures of sodium benzoate and potassium sorbate practiced with multivariate calibration methods. The model used  partial least squares (PLS), principle component analysis (PCA), and principle component regression (PCR). Analysis using the PLS indicated difference between the initial concentration of sodium benzoate and sodium benzoate after treatment is greater than the difference in the concentration of potassium sorbate, it caused that residual error due to the sodium value is greater than potassium sorbate, 1.34 and 0.11, respectively. It accords well with the results of PCR analysis with the model that the PRESS value is greater than the sodium benzoate potassium sorbate to the value 39.5893 and 0.8125, respectively.   The    best   results  are  shown in the PLS  models  because it produces a very small
PRESS value.
Key words: multivariate calibration, PLS, PCA, PCR

Mahasiswa mempunyai kehendak masing-masing saat dihadapkan pada beberapa pilihan. Tak terkecuali dalam memprioritaskan antara akademik (Study oriented) dan organisasi (aktivis kampus). Dalam hal ini banyak mahasiswa yang kegiatannya hanya kuliah saja, setelah itu tidak ikut kegiatan apapun di luar kegiatan perkuliahan. Di sisi lain tidak sedikit mahasiswa yang sangat aktif melakukan kegiatan-kegiatan di luar kuliah, sampai-sampai waktu luangnya digunakan untuk mengisi kegiatan tersebut. Terdapat kecenderungan (dalam hal ini kepribadian  mahasiswa) yang memilih salah satu dari pilihan tersebut. Mahasiswa yang Study Oriented biasanya agak sungkan untuk menyampaikan pendapat, tidak terlalu berani tampil berbicara di depan, tidak terlalu mempunyai banyak teman di luar komunitas program studinya, dan lemah dalam hal kepemimpinan (secara umum) tetapi sangat bagus dalam hal akademiknya meskipun banyak juga kejadian mahasiswa dengan tipe seperti itu belum bisa menyesuaikan diri dengan mata kuliahnya sehingga memutuskan untuk tidak mengikuti aktivitas-aktivitas lain. Mahasiswa dengan tipe aktivis kampus biasanya unggul dalam hal berbicara, berani mengungkapkan pendapat, terlatih dalam memanajemen waktu, dan memiliki banyak teman di luar komunitas program studinya tetapi tidak sedikit dari mahasiswa tipe tersebut yang malah mengabaikan akademiknya sehingga tidak terjadi keberuntungan dari hasil evaluasi belajarnya (sebut saja IP atau IPK). Pastinya kedua pilihan tersebut mahasiswa sendiri yang menentukan tetapi harus memahami sendiri konsekuensinya. Mahasiswa study oriented tentunya harus memiliki keunggulan tersendiri dalam hal akademiknya, ikut kegiatan-kegiatan seperti olimpiade, program kreativitas mahasiswa, dan sebagainya, sementara itu mahasiswa aktivis seharusnya bisa memaksimal kinerjanya dalam kegiatan berorganisasi sehingga benar-benar teriorientasi pada kebutuhan mahasiswa lain tentunya dengan tidak mengabaikan akademiknya. Namun, Itu Pilihan.

 

Hal yang mungkin banyak mahasiswa dambakan, yaitu bisa balans antara kedua pilihan tersebut. Aktif dalam berorganisasi bukan berarti melalaikan kepentingan akademiknya atau dengan kata lain menjadi seorang aktivis kampus bukan berarti tidak bisa menyesuaikan kondisi akademiknya. Kuliah yang prestatif dan aktivis sejati mungkin itu yang banyak mahasiswa suarakan dan inginkan.

 

Pilihan lain yang yang memang minoritas mahasiswa lakukan yaitu disela-sela kuliah belajar berwirausaha, mengajar, bekerja sampingan diluar bisang akademik, atau hal lainnya. Intinya, waktu luang di sela kuliah seharusnya bisa dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin, baik untuk kegiatan berorganisasi, belajar kelompok, mengerjakan tugas, berwirausaha, dan sebagainya.

Hidup Mahasiswa!!!