" /> " /> " /> " />

Archive for August, 2010

Contoh Artikel

PENGARUH AGING TERHADAP AKTIVITAS SISTEM KEKEBALAN TUBUH

Juli10

Dengan meningkatnya kemajuan ilmu dan teknologi khususnya di bidang kesehatan, semakin meningkat pula kualitas hidup masyarakat. Semakin meningkat pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga meningkatkan kualitas hidupnya, dengan menjaga kesehatan individu maupun kesehatan lingkungannya. Melakukan olah raga secara teratur dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Memelihara kesehatan lingkungan sekitar selalu bersih dan bebas dari pencemaran. Dengan kemajuan di bidang kesehatan, banyak ditemukan obat-obatan dan teknik pengobatan yang lebih baik. Dengan demikian angka kesakitan dan angka kematian dapat dikurangi. Sehingga akan meningkatkan usia harapan hidup masyarakat.

Setiap tahun jumlah lansia di seluruh dunia semakin bertambah karena semakin meningkatnya usia harapan hidup. Di negara – negara yang sudah maju, jumlah lansia rerlatif lebih besar dibanding dengan negara – negara berkembang, karena tingkat perekonomian yang lebih baik dan fasilitas pelayanan kesehatan sudah memadai. Hal ini juga akan menimbulkan masalah pelayanan kesehatan terutama pada kaum lansia.

Usia harapan hidup di Indonesia saat ini adalah 65 tahun. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sudah tidak tidak produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, ditinggal pasangan hidup, stress menghadapi kematian, munculnya berbagai macam penyakit, dan lain – lain. Karena sel-sel mengalami degeneratif maka fungsi dari sistem organ juga mengalami penurunan. Kulit menjadi keriput, rambut putih dan menipis, gigi berlubang dan tanggal, fungsi penglihatan, pendengaran, pengecapan atau pencernaan mulai menurun, osteoporosis, gangguan sistem kardiovaskuler dan lain-lain.

Meskipun demikian tidak sedikit kaum lansia yang masih produktif dan mampu untuk melaksanakan aktivitas sehari – harinya dengan baik, seperti berkebun, usaha wiraswasta, dan lain-lain.

Proses penuaan adalah suatu proses fisiologi umum yang sampai saat ini masih sulit untuk dipahami. Ditandai dengan adanya proses degenerasi sel dan sistem yang dibentuknya secara keseluruhan, perlahan tapi pasti. Proses menua berbeda pada setiap individu. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan, nutrisi, gaya hidup dan faktor lingkungan. Aging (lansia)  mempengaruhi aktivitas leukosit termasuk makrofag, monosit, neutrofil, dan eosinofil. Namun hanya sedikit data yang tersedia menjelaskan efek penuaan terhadap sel-sel tersebut.

Jumlah dan Sub-populasi Limfosit

Aging mempengaruhi fungsi sel T dengan berbagai cara. Beberapa sel T ditemukan dalam thymus dan sirkulasi darah yang disebut dengan sel T memori dan sel T naive. Sel T naive adalah sel T yang tidak bergerak/diam dan tidak pernah terpapard engan antigen asing, sedangkan sel T memori adalah sel aktif yang terpapar dengan antigen. Saat antigen masuk, maka sel T naïve menjadi aktif dan merangsang sistem imun untuk menghilangkan antigen asing dari dalam tubuh, selanjutnya merubah diri menjadi sel T memori. Sel T memori menjadi tidak aktif dan dapat aktif kembali jika menghadapi antigen yang sama. Pada kelompok usila, hampir tidak ada sel T naive sejak menurunnya produksi sel T oleh kelenjar timus secara cepat sesuai usia. Akibatnya cadangan sel T naive menipis dan sistem imun tidak dapat berespons secepat respons kelompok usia muda. Jumlah sel B, sel T helper (CD4+) juga berubah pada orang tua (Bell, 1997).

Selain terjadi perubahan jumlah sel T, pada kelompok usila juga mengalami perubahan permukaan sel T. Ketika sel T menggunakan reseptor protein di permukaan sel lalu berikatan dengan antigen, maka rangsangan lingkungan harus dikomukasikan dengan bagian dalam sel T Banyak molekul terlibat dalam transduksi signal, proses perpindahan ikatan signal-antigen melalui membran sel menuju sel. Sel T yang berusia tua tidak menunjukkan antigen CD28, suatu molekul penting bagi transduksi signal dan aktivasi sel T. Tanpa CD28, sel T tidak berespons terhadapnya masuknya patogen asing. Pada tubuh kelompok elderly juga terdapat kandungan antigen CD69 yang lebih rendah. Sel T dapat menginduksi antigen CD69 setelah berikatan dengan reseptor sel T. Bila ikatan signal-antigen tidak dipindahkan ke bagian dalam sel T, maka antigen CD69 akan hilang di permukaan sel dan terjadi penurunan transduksi signal.

Respons Proliferasi Limfosit

Perubahan utama pada fungsi imun orang tua adalah perubahan respons proliferatif limfosit seperti berkurangnya Interleukin-2 (IL-2) yang tercermin dari rusaknya proses signal pada orang tua, minimnya kadar Ca dalam tubuh, dan perubahan membran limfosit sehingga mempengaruhi fungsi imun. Penurunan Calcium (Ca) pada orang tua mempengaruhi perpindahan signal dengan gagalnya merangsang enzim termasuk protein kinase C, MAPK dan MEK; serta menghambat produksi cytokines, protein yang bertanggung jawab untuk koordinasi interaksi dengan antigen dan memperkuat respons imun. Salah satu cytokine yang dikenal adalah interleukin 2 (IL-2), cytokine diproduksi dan disekresi oleh sel T untuk menginduksi proliferasi sel dan mendukung pertumbuhan jangka panjang sel T. Sesuai peningkatan usia sel T, maka kapasitas sel T untuk menghasilkan IL-2 menurun. Jika terpapar antigen, maka sel T memori akan membelah diri menjadi lebih banyak untuk melawan antigen. Jika produksi IL-2 sedikit atau sel T tidak dapat berespons dengan IL-2, maka fungsi sel T rusak. Perubahan cytokine lain adalah interleukin , tumor necrosis factor alpha, dan gamma interferon

Viskositas membran sel T juga berubah pada orang tua, tetapi viskositas sel B tetap. Kompoisisi lipid pada membran limfosit orang tua menunjukkan peningkatan proporsi kolesterol dan fosolipid dibandingkan orang muda. Serum darah orang tua mengandung banyak VLDL dan LDL. Perubahan komposisi lipid di atas dapat meningkatkan penurunan imunitas tubuh orang tua. Pembatasan asupan lemak mempengaruhi komposisi membran lipid limfosit, meningkatkan level asam linoleat, menurunkan kadar asam docosatetraenoat dan arakhidonat

Produksi Cytokine

Respons limfosit diatur oleh cytokine. Respons limfosit atau sel T helper dibagi menjadi 2 jenis yaitu: 1. Th-1 dan 2. Th-2. Respons antibodi biasanya diperoleh dari Th-2 cytokine. Perubahan produksi cytokine merubah imunitas perantara sel (Cell Mediated Immunity) pada roang tua. Respons limfosit pada makrofag berubah pada orang tua di mana terdapat sensitivitas yang lebih tinggi terhadap efek inhibitor (Garna, kaenen, 1996)

Penurunan fungsi sel T pada orang tua juga mempengaruhi fungsi sel B karena sel T dan sel B bekerjasama untuk mengatur produksi antibodi. Sel T menginduksi sel B untuk hipermutasi gen-gen immunoglobulin, menghasilkan perbedaan antibody untuk mengenali jenis-jenis antigen. Pada orang tua terdapat jenis antibodi yang lebih sedikit dibandingkan pada orang muda, rendahnya respons IgM terhadap infeksi, dan menurunnya kecepatan pematangan sel B. Semua itu berkontribusi terhadap penurunan jumlah antibodi yang diproudksi untuk melawan infeksi.

Respons tubuh pada orang tua terhadap infeksi penyebab penyakit yang ditunjukkan dengan reaksi demam tidak berlangsung secara otomatis. Lebih dari 20% manusia berusia di atas 65 tahun mempunyai infeksi bakteri yang serius tidak mengalami demam, karena tubuh mampu menetralisir demam dan reaksi imun lainnya, tetapi sistem syaraf pusat kurang sensitive terhadap tanda-tanda imun dan tidak bereaksi cepat terhadap infeksi.

Pustaka

Bell R, High K. 1997. Alterations of Immune Defense Mechanisms in The Elderly: the Role of Nutrition. Infect Med.

Garna, kaenen. 1996. Imunologi Dasar. Jakarta;Fakultas Kedokteran UI.

KEBUTUHAN GIZI PADA ORANG LANJUT USIA (Bagian 1)

Juli10

Pendahuluan

Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena didalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan metabolismenya. Bagi lansia pemenuhan kebutuhan gizi yang diberikan dengan baik dapat membantu dalam proses beradaptasi atau menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang dialaminya selain itu dapat menjaga kelangsungan pergantian sel-sel tubuh sehingga dapat memperpanjang usia.

Kebutuhan kalori pada lansia berkurang karena berkurangnya kalori dasar dari kebutuhan fisik. Kalori dasar adalah kalori yang dibutuhkan untuk malakukan kegiatan tubuh dalam keadaan istirahat, misalnya : untuk jantung, usus, pernafasan dan ginjal.
Berdasarkan kegunaannya bagi tubuh, zat gizi dibagi ke dalam tiga kelompok besar, yaitu :

Kelompok zat energi, termasuk ke dalam kelompok ini adalah :

  1. Bahan makanan yang mengandung karbohidrat seperti beras, jagung, gandum, ubi, roti, singkong dan lain-lain, selain itu dalam bentuk gula seperti gula, sirup, madu dan lain-lain. Bahan makanan yang mengandung lemak seperti minyak, santan, mentega, margarine, susu dan hasil olahannya.

2. Kelompok zat pembangun

Kelompok ini meliputi makanan – makanan yang banyak mengandung protein, baik protein hewani maupun nabati, seperti daging, ikan, susu, telur, kacangkacangan dan olahannya.

3. Kelompok zat pengatur

Kelompok ini meliputi bahan-bahan yang banyak mengandung vitamin dan mineral, seperti buah-buahan dan sayuran.

Faktor yang mepengaruhi Kebutuhan Gizi pada Lansia

Berkurangnya kemampuan mencerna makanan akibat kerusakan gigi atau ompong. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita rasa manis, asin, asam, dan pahit. Esophagus atau kerongkongan mengalami pelebaran. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun. Gerakan usus atau gerak peristaltik lemah dan biasanya menimbulkan konstipasi. Penyerapan makanan di usus menurun.

Masalah Gizi pada Lansia

1. Gizi berlebih

Gizi berlebih pada lansia banyak terjadi di negara-negara barat dan kota-kota besar. Kebiasaan makan banyak pada waktu muda menyebabkan berat badan berlebih, apalai pada lansia penggunaan kalori berkurang karena berkurangnya aktivitas fisik. Kebiasaan makan itu sulit untuk diubah walaupun disadari untuk mengurangi makan.

Kegemukan merupakan salah satu pencetus berbagai penyakit, misalnya : penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

2. Gizi kurang

Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah-masalah social ekonomi dan juga karena gangguan penyakit. Bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok, daya tahan terhadap penyakit menurun, kemungkinan akan mudah terkena infeksi.

3. Kekurangan vitamin

Bila konsumsi buah dan sayuran dalam makanan kurang dan ditambah dengan kekurangan protein dalam makanan akibatnya nafsu makan berkurang, penglihatan menurun, kulit kering, penampilan menjadi lesu dan tidak bersemangat.
Pemantauan Status Nutrisi

1. Penimbangan Berat Badan

a. Penimbangan BB dilakukan secara teratur minimal 1 minggu sekali, waspadai peningkatan BB atau penurunan BB lebih dari 0.5 Kg/minggu. Peningkatan BB lebih dari 0.5 Kg dalam 1 minggu beresiko terhadap kelebihan berat badan dan penurunan berat badan lebih dari 0.5 Kg /minggu menunjukkan kekurangan berat badan.

b. Menghitung berat badan ideal pada dewasa :

Rumus : Berat badan ideal = 0.9 x (TB dalam cm – 100)

Catatan untuk wanita dengan TB kurang dari 150 cm dan pria dengan TB kurang dari 160 cm, digunakan rumus :

Berat badan ideal = TB dalam cm – 100

Jika BB lebih dari ideal artinya gizi berlebih. Jika BB kurang dari ideal artinya gizi kurang.

  1. Kekurangan kalori protein
  2. Waspadai lansia dengan riwayat : Pendapatan yang kurang, kurang bersosialisasi, hidup sendirian, kehilangan pasangan hidup atau teman, kesulitan mengunyah, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, sulit untuk menyiapkan makanan, sering mangkonsumsi obat-obatan yang mangganggu nafsu makan, nafsu makan berkurang, makanan yang ditawarkan tidak mengundang selera. Karena hal ini dapat menurunkan asupan protein bagi lansia, akibatnya lansia menjadi lebih mudah sakit dan tidak bersemangat.
  3. Kekurangan vitamin D

Biasanya terjadi pada lansia yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari, jarang atau tidak pernah minum susu, dan kurang mengkonsumsi vitamin D yang banyak terkandung pada ikan, hati, susu dan produk olahannya.

KEBUTUHAN GIZI PADA ORANG LANJUT USIA (Bagian 2)

Juli10

Perencanaan Makanan untuk Lansia

1. Makanan harus mengandung zat gizi dari makanan yang beraneka ragam, yang terdiri dari : zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur.

2. Perlu diperhatikan porsi makanan, jangan terlalu kenyang. Porsi makan hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga dapat makan lebih sering dengan porsi yang kecil.

Contoh menu :

Pagi : Bubur ayam

Jam 10.00 : Roti

Siang : Nasi, pindang telur, sup, pepaya

Jam 16.00 : Nagasari

Malam : Nasi, sayur bayam, tempe goreng, pepes ikan, pisang

3. Banyak minum dan kurangi garam, dengan banyak minum dapat memperlancar pengeluaran sisa makanan, dan menghindari makanan yang terlalu asin akan memperingan kerja ginjal serta mencegah kemungkinan terjadinya darah tinggi.
4. Batasi makanan yang manis-manis atau gula, minyak dan makanan yang berlemak seperti santan, mentega dll.

5. Bagi pasien lansia yang proses penuaannya sudah lebih lanjut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : Memakan makanan yang mudah dicerna, menghindari makanan yang terlalu manis, gurih, dan goring-gorengan, bila kesulitan mengunyah karena gigi rusak atau gigi palsu kurang baik, makanan harus lunak/lembek atau dicincang, makan dalam porsi kecil tetapi sering, makanan selingan atau snack, susu, buah, dan sari buah sebaiknya diberikan

6. Batasi minum kopi atau teh, boleh diberikan tetapi harus diencerkan sebab berguna pula untuk merangsang gerakan usus dan menambah nafsu makan.
7. Makanan mengandung zat besi seperti : kacang-kacangan, hati, telur, daging rendah lemak, bayam, dan sayuran hijau.

8. Lebih dianjurkan untuk mengolah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang kurangi makanan yang digoreng.

Nutrisi dan Mineral Yang Dapat Meningkatkan

Sistem Imun Orang Tua

Nutrisi dan mineral-mineral yang dapat meningkatkan system imun orang tua antara lain (Dickinson A, 2002);

  1. Beta-glucan.

Adalah sejenis gula kompleks (polisakarida) yang diperoleh dari dinding sel ragi roti, gandum, jamur (maitake). Hasil beberapa studi menunjukkan bahwa beta glucan dapat mengaktifkan sel darah putih (makrofag dan neutrofil).

  1. Hormon DHEA.

Studi menggambarkan hubungan signifikan antara DHEA dengan aktivasi fungsi imun pada kelompok orang tua yang diberikan DHEA level tinggi dan rendah. Juga wanita menopause mengalami peningkatan fungsi imun dalam waktu 3 minggu setelah diberikan DHEA.

  1. Protein: arginin dan glutamin.

Lebih efektif dalam memelihara fungsi imun tubuh dan penurunan infeksi pasca-pembedahan. Arginin mempengaruhi fungsi sel T, penyembuhan luka, pertumbuhan tumor, dans ekresi hormon prolaktin, insulin, growth hormon. Glutamin, asam amino semi esensial berfungsi sebagai bahan bakar dalam merangsang limfosit dan makrofag, meningkatkan fungsi sel T dan neutrofil.

  1. Lemak.

Defisiensi asam linoleat (asam lemak omega 6) menekan respons antibodi, dan kelebihan intake asam linoleat menghilangkan fungsi sel T. Konsumsi tinggi asam lemak omega 3 dapat menurunkan sel  helper, produksi cytokine.

  1. Yoghurt yang mengandung Lactobacillus acidophilus dan probiotik lain.

Meningkatkan aktivitas sel darah putih sehingga menurunkan penyakit kanker, infeksi usus dan lambung, dan beberapa reaksi alergi.

  1. Mikronutrien (vitamin dan mineral).

Vitamin yang berperan penting dalam memelihara system imun tubuh orang tua adalah vitamin A, C, D, E, B6, dan B12. Mineral yang mempengaruhi kekebalan tubuh adalah Zn, Fe, Cu, asam folat, dan Se.

  1. Zinc.

Menurunkan gejala dan lama penyakit influenza. Secara tidak langsung mempengaruhi fungsi imun melalui peran sebagai kofaktor dalam pembentukan DNA, RNA, dan protein sehingga meningkatkan pembelahan sellular. Defisiensi Zn secara langsung menurunkan produksi limfosit T, respons limfosit T untuk stimulasi atau rangsangan, dan produksi IL-2.

  1. Lycopene.

Meningkatkan konsentrasi sel Natural Killer (NK)

  1. Asam Folat

Meningkatkan sistem imun pada kelompok lansia. Studi di Canada pada sekelompok hewan tikus melalui pemberian asam folate dapat meningkatkan distribusi sel T dan respons mitogen (pembelahan sel untuk meningkatkan respons imun). Studi terbaru menunjukkan intake asam folat yang tinggi mungkin meningkatkan memori populasi lansia (Daniels S, 2002).

  1. Fe (Iron).

Mempengaruhi imunitas humoral dan sellular dan menurunkan produksi IL-1.

  1. Vitamin E

Melindungi sel dari degenerasi yang terjadi pada proses penuaan. Studi yang dilakukan oleh Simin Meydani, PhD. di Boston menyimpulkan bahwa vitamin E dapat membantu peningkatan respons imun pada penduduk lanjut usia. Vitamin E adalah antioksidan yang melindungi sel dan jaringan dari kerusakan secara bertahap akibat oksidasi yang berlebihan. Akibat penuaan pada respons imun adalah oksidatif secara alamiah sehingga harus dimodulasi oleh vitamin E (Murray F, 1991).

  1. Vitamin C.

Meningkatkan level interferon dan aktivitas sel imun pada orang tua, meningkatkan aktivitas limfosit dan makrofag, serta memperbaiki migrasi dan mobilitas leukosit dari serangan infeksi virus, contohnya virus influenzae.

m.  Vitamin A.

Berperan penting dalam imunitas nonspesifik melalui proses pematangan sel-sel T dan merangsang fungsi sel T untuk melawan antigen asing, menolong mukosa membran termasuk paruparu dari invasi mikroorganisme, menghasilkan mukus sebagai antibodi tertentu seperti: leukosit, air, epitel, dan garam organik, serta menurunkan mortalitas campak dan diare. Beta karoten (prekursor vitamin A) meningkatkan jumlah monosit, dan mungkin berkontribusi terhadap sitotoksik sel T, sel B, monosit, dan makrofag. Gabungan/kombinasi vitamin A, C, dan E secara signifikan memperbaiki jumlah dan aktivitas sel imun pada orang tua. Hal itu didukung oleh studi yang dilakukan di Perancis terhadap penghuni panti wreda tahun 1997. Mereka yang diberikan suplementasi multivitamin (A, C, dan E) memiliki infeksi pernapasan dan urogenital lebih rendah daripada kelompok yang hanya diberikan plasebo.

  1. Vitamin D.

Menghambat respons limfosit Th-1.

  1. Kelompok Vitamin B.

Terlibat dengan enzim yang membuat konstituen sistem imun. Pada penderita anemia defisiensi vitamin B12 mengalami penurunan sel darah putih dikaitkan dengan fungsi imun. Setelah diberikan suplementasi vitamin B12, terdapat peningkatan jumlah sel darah putih. Defisiensi vitamin B12 pada orang tua disebabkan oleh menurunnya produksi sel parietal yang penting bagi absorpsi vitamin B12. Pemberian vitamin B6 (koenzim) pada orang tua dapat memperbaiki respons limfosit yang menyerang sistem imun, berperan penting dalam produksi protein dan asam nukleat. Defisiensi vitamin B6 menimbulkan atrofi pada jaringan limfoid sehingga merusak fungsi limfoid dan merusak sintesis asam nukleat, serta menurunnya pembentukan antibodi dan imunitas sellular.

Abstrak Disertasi

POTENSI EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestika Val) TERHADAP KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio) YANG TERINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila

Juni20

Oleh

Bayyinatul Muchtaromah*)

*)Penulis adalah dosen jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak kunyit (Curcuma domestika Val) terhadap kelulushidupan benih ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri atas 6 perlakuan dan 4 kali ulangan.  Perlakuan dalam penelitian ini meliputi lama perendaman dan dosis.  Lama perendaman terdiri atas tiga variasi yaitu 20 menit, 30 menit dan 40 menit sedangkan dosis terdiri atas dua variasi yaitu 0,4 g/l dan 0,6 g/l .  Parameter dalam penelitian ini adalah prevalensi dan kelulushidupan benih ikan mas. Prevalensi diukur berdasarkan jumlah ikan yang sakit dibagi dengan jumlah ikan yang hidup sedangkan kelulushidupan diukur berdasarkan jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian dengan jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kunyit dengan variasi lama perendaman dan dosis mempengaruhi kelulushidupan ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Tingkat kelulushidupan tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan lama perendaman 30 menit dengan dosis 0,6 g/l sebesar 70% dan yang terendah pada perlakuan lama perendaman 20 menit dengan dosis 0,4 g/l sebesar 25%.  Prevalensi terbaik didapatkan pada perlakuan lama perendaman 40 menit dengan dosis 0,6 g/l sebesar 38,125% sedangkan nilai prevalensi tertinggi pada perlakuan lama perendaman 20 menit dengan dosis 0,4 g/l sebesar 83,5%.  Hasil pengukuran kualitas air berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan kisaran yang masih dalam batas normal untuk kehidupan benih ikan mas, dimana suhu berkisar antara 19,4-20,5o , derajat keasaman antara 8,0-8,2 dan oksigen terlarut antara 6,5 ppm.

Kata Kunci: lama perendaman dan dosis, ekstrak kunyit, kelulus hidupan, ikan mas, Aeromonas hydrophila

Abstrak Jurnal

PENGARUH PENGOLAHAN JENIS TEPUNG CACING DENGAN VARIASI SUHU TERHADAP PENGHAMBATAN PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella typhi SECARA IN VITRO

Juni26

Oleh:

Bayyinatul Muchctaromah

Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Email: bayyinatul_uin@yahoo.co.id

Typhoid fever adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi yang merupakan bakteri enteropatogenik dari genus Salmonella. Secara turun temurun masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa mengobati penyakit ini menggunakan cacing dengan pengolahan yang sederhana. Cacing tanah merupakan sebutan umum dari cacing yang hidup di tanah yang terdiri atas berbagai spesies, dan masyarakat biasanya kurang memperhatikan spesies cacing yang paling efektif sebagai obat tifus. Maka perlu diuji perbedaan kualitas tepung cacing yang berasal dari dua spesies cacing yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk obat tifus, yaitu Lumbricus rubellus dan Pheretima aspergillum serta suhu optimal yang dibutuhkan untuk pengolahan tepung cacing secara in vitro.

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Racangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial menggunakan 2 faktor dan 6 ulangan. Faktor pertama adalah 2 spesies cacing yaitu Lumbricus rubellus dan Pheretima aspergillum. Faktor kedua adalah 3 variasi suhu pengolahan tepung cacing yaitu 50oC, 60oC, dan 70oC. Data yang diperoleh berupa ukuran zona hambat bakteri Salmonella typhi dianalisis dengan Two Way Anova. Apabila terjadi perbedaan yang signifikan, maka dilanjutkan dengan uji BNJ dengan taraf signifikansi 5%. Read the rest of this entry »

THE EFFECT OF PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) AS MATERIAL ANTIFERTILITY TO GPT (Glutamic Pyruvate Transaminase) and GOT (Glutamic Oxaloacetic Transaminase) CONCENTRATION AND ITS HISTOLOGICAL PROFILE OF FEMALE MICE (Mus musculus)

Juni26

By:
Bayyinatul Muchtaromah
Department of Biology, Faculty of Science and Technology

University of Islamic State Maulana Malik Ibrahim Malang

Jl. Gajayana 50 Malang, East Java, Indonesia Phone / fax : 0341 558933

Mobile phone: 0811369317 Email: bayyinatul_uin@yahoo.co.id

One plant that allegedly has the potential as antifertility material is pegagan (Centella asiatica (L.) Urban). Based on previous research, high dose of pegagan , 275 mg / kg BW is effective to reduce the number of primary, secondary and tertiary follicles. The follicular development was not even discovered until the stage of de Graff. Characteristics of an ideal contraceptive is safe, efficient, cheap, easily obtained, reversible and a little of side effects on other organs including liver. The purpose of this study was to determine whether pegagan is potential for safe contraception and does not cause toxic effects on the liver because this organ plays an important role in metabolic processes such as modifying drugs and toxins become inactive or water soluble.

The design used in this study were completely randomized design with four treatments in four doses, ie 125 mg / kg, 200 mg / kg, 275 mg / kg BW and control, each  treatment consisting of six replicates. Dependent variables observed in this study is the level of GPT (glutamate pyruvate transaminase) and GOT (glutamic oxaloacetic transaminase) and profile of liver histological mice. GPT and GOT levels measured were analyzed by analysis of single variant of 0.05. If the F calculated> F table it is followed by LSD 0.05. Histological picture of the liver include central venous dilation and inflammation and damage to the structure of liver cells in the scoring and then performed Kruskal Wallis.

Statistical analysis showed that the leaf extract of pegagan as a material antifertility not provide significant effect on serum GPT and GOT enzyme in the liver of mice, whereas the histology results did not reveal any visible damage to liver cells in each treatment or dose given unless the treatment dose 200 mg / kg BW seems there is little central venous dilation and degeneration of liver cells in several fields of view but after statistical analysis did not provide significant differences between treatments. From the above results concluded that pegagan extract as an antifertility substances until the dose of 275 mg / kg is safe and will not cause damage to the liver.

Keywords: pegagan extract (Centella asiatica (L) Urban), levels of GPT, GOT, liver histology, female mice (Mus musculus)

PENYIMPANGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA

Juni26

Oleh:

Bayyinatul Muchctaromah

Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Email: bayyinatul_uin@yahoo.co.id

ABSTRAK

Pada remaja perilaku seksual yang tidak semestinya banyak ditemui bahkan saat ini banyak yang menganggapnya bukan suatu penyimpangan dan bahkan melegalkannya. Sejak tahun 1973 American Psychiatric Association (APA) memutuskan untuk menghapus homoseksualitas sebagai diagnosis gangguan kejiwaan.  Dalam Pedoman Penggolongan  dan Diagnosis Gangguan Jiwa tahun 1993, homoseksualitas hanya dicantumkan sebagai orientasi ego distonik dan digolongkan pada katagori gangguan psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual dan beberapa dekade terakhir masyarakat kita mulai dapat menerima keberadaan mereka, sehingga aktivitas kaum homoseksual mulai terbuka.

Kata kunci: penyimpangan, perilaku seksual, remaja

THE BENEFITS OF BREAST MILK FOR AN INFANT’S HEALTY GROWTH AND DEVELOPMENT

Juni26

By

Bayyinatul Muchtaromah

Lecturer of Biology Departement Science and Technology Faculty Islamic State University of Malang

Presented in International Conference with the Topic “Ihe Role of Sciences and Technology in Islamic Civilization” in Post Graduate Building 3rdF Islamic State University of Malang, 19th June 2008.

ABSTRACT

Breastfeeding is the feeding of an infant or young child with breast milk directly from a woman’s breasts, not from a baby bottle or other container. Babies have a sucking reflex that enables them to suck and swallow milk. It is possible for most mothers to nourish their by breastfeeding for the first six months, if not longer, without the supplement of infant formula milk or solid food. According alternatives to breastfeeding include:expressed breast milk from an infant’s own mother breast milk from a healthy wet-nurse or a human-milk bank a breast-milk substitute fed with a cup, which is a safer method than a feeding bottle and teat. In most situations human breast milk is the best source of nourishment for human infants, preventing disease, promoting health and reducing health care costs, exceptions include situations where the mother is taking certain drugs or is infected with tuberculosis or HIV. Read the rest of this entry »

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BUAH PARE (Momordica Charantia L) TERHADAP PROSES SPERMATOGENESIS MENCIT (Mus Musculus)

Juni25

Bayyinatul Muchtaromah dan Aisatul Jannah

Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang

ABSTRAK

Buah pare merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh didaerah tropis. Secara luas dikenal mempunyai khasiat sebagai obat anti diabetes, anti mitosis. Pare mengandung kukurbitacin termasuk golongan glikosida triterpenoid. Adanya kandungan kukurbitacin ini yang diduga dapat menurunkan jumlah sel-sel spermatogenik dalam tubulus seminiferus testis mencit (Mus musculus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Langkap (RAL). Penelitian ini menggunakan Analisis Varian (ANOVA) one way. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah pare (Momordica charantia) memberikan pengaruh terhadap jumlah sel-sel spermatogenik yang meliputi spermatogonium, spermatosit dan spermatid pada testis mencit (Mus musculus). Sedangkan dosis yang efektif ekstrak buah pare (Momordica charantia) untuk menurunkan jumlah sel-sel spermatogenik dalam proses spermatogenesis mencit (Mus musculus) adalah dosis 0,03 mg/kg/bb

Kata Kunci: Ekstrak, Buah Pare (Momordica charantia L), Spermatogenesis, Mencit (Mus musculus).

Studi Daya Hambat In Vitro Anti MPS ecto CIK (Mayor Physiological Protein Substrat) terhadap Proses Kapasitasi dan Reaksi Akrosom Spermatozoa Domba

Juni25

Oleh:

Bayyinatul Muchtaromah

Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

ABSTRAK

Spermatozoa dapat berhasil melakukan fertilisasi apabila sudah  terjadi proses kapasitasi dan reaksi akrosom pada bagian membran kepala spermatozoa. Pengenalan antara spermatozoa-ovum (sperm-egg recognition) melibatkan pelekatan membran spermatozoa terutama dari bagian kepala dengan permukaan luar zona pellusida ovum. Apabila antigen pada membran spermatozoa sudah diikat oleh antibodinya maka akan terjadi kegagalan kemampuan spermatozoa untuk mengikat zona pelusida sehingga terjadilah kegagalan fertilisasi. Read the rest of this entry »

THE POTENTION OF PARE’S FRUIT (Momordica charantia L) EXTRACT TO MICE (Mus Musculus) SPERMATOGENESIS

Juni25

Oleh:

Bayyinatul Muchtaromah

Biology Departement. Science and Technology Faculty. Islamic State University Maulana Malik Ibrahim Malang. Jl. Gajayana No. 50 Malang 65144 Telp/Fax. (0341) 558933

ABSTRACT

Pare’s fruit (Momordica charantia L) had a potention for antidiabetic and anti mitotic. Pare’s fruit contained cucurbitacin and include glycoside triterpenoid. This research purposed to investigate the potention of cucurbitacin to decrease the spermatogenic cells in mice tubulus seminiferous. This experiment used five dosage treathment: 0 (control); 0,02; 0,03; 0,04 dan 0,05 gr/kg weight. The result of this experiment showed that pare’s extract give the significant result to decrease spermatogenic cell (spermatogonium, spermatosit and spermatid) in testical mice. The effective dosage to decrease the spermatogonium and spermatocid cell was 0.03 gr/kg weight and the spermatid was 0,05 gr/kg weight. The suggestion of this study was investigated the toxic effect for the important organ like lever an kidney

Keyword: pare’s fruit (Momordica charantia L), spermatogenesis, mice (Mus musculus).

Studi Daya Hambat In Vitro Anti MPS ecto CIK (Mayor Physiological Protein Substrat) terhadap Viabilitas Spermatozoa Kambing Dan Domba

Juni25

oleh

Bayyinatul Muchtaromah

Penulis adalah dosen jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Malang

ABSTRAK

Untuk menuju suatu penemuan tentang vaksin kontrasepsi bagi pria, diperlukan penelitian dasar mengenai hal tersebut. Sebagai langkah awal dilakukan uji hambatan Anti MPS ecto CIK terhadap viabilitas spermatozoa kambing dan domba, sedangkan dari penelitian pendahuluan diketahui bahwa anti MPS dari ecto-CIK ini mampu bereaksi silang dengan spermatozoa domba, dan sapi. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa besar peranan anti MPS ecto CIK dalam menghambat  viabilitas spermatozoa kambing dan domba secara in vitro. Read the rest of this entry »

ISOLASI DAN KARAKTERISASI PROTEIN 100 kDa DARI MEMBRAN KEPALA SPERMATOZOA KAMBING

Juni20

oleh

Bayyinatul Muchtaromah)*

Penulis adalah dosen jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Malang

ABSTRAK

Dalam rangka pencarian bahan kandidat vaksin imunokontrasepsi maka perlu dilakukan isolasi dan karakterisasi protein  100 kDa yang diduga mempunyai peranan penting di dalam interaksi spermatozoa-ovum. Protein adalah antigen yang dapat menginduksi terbentuknya antibodi.  Berat molekul protein sebesar 100 kDa dapat bertindak sebagai imunogen yang kuat. Read the rest of this entry »

KARAKTERISASI PROTEIN 100 kDa SEBAGAI KANDIDAT IMUNOKONTRASEPSI

Juni20

Oleh:

Bayyinatul Muchtaromah

Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang

ABSTRAK

Dalam rangka pencarian bahan kandidat vaksin imunokontrasepsi maka perlu dilakukan isolasi dan karakterisasi protein  100 kDa yang diduga mempunyai peranan penting di dalam interaksi spermatozoa-ovum.

Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif. Materi Protein 100 kDa diisolasi dari membran spermatozoa kambing menggunakan detergen N-Octyl-glycopiranoside kemudian dirunning menggunakan metode SDS PAGE dan dikoleksi dengan elektroelusi. Karakterisasi Protein 100 kDa meliputi penentuan berat molekul melalui SDS-PAGE, penentuan titik isoelektrik (pI) dengan IEF (isoelectric focusing) dan kandungan protein dengan metode Biuret

Fun with Cartoon

ayo lompaaaaatttt…. gapai sang merah putih !!!!!!!!!!!!!!

Ngantuk nihhhh…. gimana mau belajar???


wallPAPER IPB 5

Lambang

Lambang IPB

Lambang IPB mencerminkan pertumbuhan IPB sebagai suatu lembaga pendidikan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi serta akan selalu maju, tumbuh terus dan mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi dengan berlandaskan Pancasila.[rujukan?]

Lambang IPB terdiri atas tulisan INSTITUT PERTANIAN BOGOR, pohon berdaun lima helai, dan buku terbuka dibawahnya yang kesemuanya berwarna putih dengan dasar berwarna biru; warna dasar biru melambangkan IPB termasuk kelompok ilmu pengetahuan; gambar buku terbuka melambangkan IPB sebagai sumber ilmu pengetahuan; bentuk bundar melambangkan bahwa ilmu itu tidak ada batasnya, selalu berkembang, bertambah; cabang tiga helai yang muncul dari buku melambangkan Tridarma Perguruan Tinggi; dan kelima ujung helai daun melambangkan lima fakultas pertama pada waktu IPB berdiri dan Tridarma Perguruan Tinggi dilaksanakan berdasarkan Pancasila. [1] [6]

[sunting] Bendera

Bendera IPB berwarna kuning dengan lambang IPB berwarna dasar biru di tengah. Lambang-lambang Fakultas :